Sabtu, 02 Mei 2015

Diary of Mine | #1stStory : Introduce & Begining

Day 1


           Tahun lalu, ketika aku masih berada di SMA, aku duduk termenung di depan komputer, seperti orang yang telah kehilangan semangat hidup dan jatuh pada lautan kegalauan. Aku merasa Ingatkanku memudar, tapi perlahan aku mulai mengingat kejadiannya. Ya kejadian yang tidak akan bisa kulupakan, melihatnya memalingkan wajah dariku serta berlari menjauh dariku, aku  bertanya kepada diriku sendiri kenapa dia meninggalkan aku , Apa aku melakukan kesalahan lagi? Apa aku mengacaukan sesuatu? Apa aku membuatnya tersinggung lagi? Aku hanya bisa diam terpaku disana, layaknya seorang pecundang.
Tiba-tiba ingatanku berubah aku mulai melihat seseorang yang sepertinya dalam kondisi menyedihkan, dia menyalahkan dirinya, bertanya layaknya orang gila pada dirinya sendiri, kulihat perlahan sosok itu berubah menjadi cerminan diriku, dan seolah mendapatkan kesadaran sendiri dia mulai bertanya padaku, ' hey pecundang inilah yang terjadi jika kau tidak mempunyai pendirian dan menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kau jangkau'. ' mungkin kau sudah merasa hebat karena mengira dia mencintaimu hanya karena dia  memberikan sedikit perhatiannya padamu? padahal kau hanya pilihan untuknya pada saat bosan'. aku hanya bisa terdiam melihat sosok itu, dia terus berbicara mkepadaku seolah dia telah lama mengenalku, ya dia memang sudah lama mengenalku. Dia adalah bagian dari diriku atau kepribadianku yang terpisah. Orang-orang menyebutnya kepribadian ganda. Kepribadian yang benar-benar bertolak belakang dengan kepribadian asli kita. Meski dia bertanya banyak hal padaku aku hanya bisa diam,
‘Huh kau pikir kau bisa mendapatkannya dengan cara begitu? Seharusnya kau lebih agresif lagi atau setidak.....” “diam!!!’ kataku padanya
‘ Apapun yang kau katakan, hal itu tidak akan mengubah fakta yang terjadi, selama ini cukup aku mengikuti kemaumanmu yang egois itu, seharusnya tidak usah kuikuti saranmu untuk mendekatinya, kalau aku tau begini akhirnya ‘ ujarku.
‘ Karena itu, kau ku sebut pecundang, Dasar..’ balasnya.              
‘ Kalau kau tak bisa diam, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri, sebaiknya kau diam saja!!’ bentakku.
Akhirnya ‘kepribadianku’ itu diam, ia memalingkan wajahnya dariku kemudian pergi dan akhirnya menghilang. Tak lama setelah itu akhirnya kudapati kesadaraakanku kembali, akal sehatku mulai masuk ke dunia nyata. Aku melihat sekelilingku untuk memastikan tidak ada orang yang mendengarnya, Tentunya aku berharap percakapan yang aku lakukan tadi itu tidak diketahui oleh siapapun, karena jika hal ini diketahui orang, aku akan dianggap gila dan kemudian akan dikucilkan. Aku kemudian pergi ke tempat tidur, berharap besoknya aku tidak ingat apapun, dan bisa tidur dengan tenang. Meski pada malamnya aku malah bermimpi buruk.
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah. Tujuaku pergi ke sekolah ialah untuk menngurus keperluan yang dibutuhkan untuk kuliah, karena aku sudah selesai melaksanakn Ujian Nasional. Setelah menyelesaikannya, aku duduk di kafetaria sekolah. Tak lama kemudian ‘Dia’ datang bersama temannya ke kafetaria. Meksi mata kami bertemu tapi tidak ada tegur sapa yang biasa kami lakukan, kami malah saling memalingkan wajah ke arah lain. Akhirnya setelah membeli makanan di Kafetaroia itu, ia segera beranjak pergi dari tempat itu. Sesekali dari jauh aku meliirik dirinya, dia tampak bahagia bahkan terkesan tidak ingat apa yang dilakukannya kemarin. Perasaanku bercampur aduk pada saat itu, aku merasa kesal dan sangat marah akan perlakuannya, tapi disisi lain aku merasa tidak ada gunanya aku memikirkannya, apalagi dengan meluapkan perasaanku dalam berbagai bentuk. Aku pun pergi toko lain, untuk mencari angin dan mencerahkan suasana hatiku.
Sesampaiku ditoko itu,  hanya ada dua siswi disana, mereka sedang memilih makanan yang dibeli. Tanpa memdeulikan mereka aku mengambil kue coklat, dan kemudian pergi ke kasirnya. Saat berjalan ke kasir aku berpapsan dengan siswi tadi, kemudian salah satunya menoleh kepadaku.
‘Bang!’ serunya.
Aku menoleh kesamping melihat dirinya. Aku benar-benar tak mengenal dirinya, entah siapa yang menyapaku ini, tapi untuk membalas kesopananya aku kemudian mengaggukkan kepala, sambil bertanya padanya siapa dirinya.
‘Aku temennya ‘Dia’ Bang.’ Katanya.
Ketika mendengar nama itu jujur saja aku hampir tidak dapat menahan emosi. Aku berprasangka buruk kepada siswi ini, mungkin dia mengenalkan dirinya padaku untuk mengejekku, pikirku. Tapi dengan cepat kukendalikan diriku, sambil bertanya padanya.
‘Oh, temennya ya? Aku mau nanya, kok dia gak pernah bales smsku apa dia udah punya nomor baru?’ kataku
‘Soal itu aku gak tau bang. Tapi bisa jadi dia menukar nomornya’ jawabnya
‘Kalau begitu boleh aku minta nomormu? Jadi kalau kamu udah tau nomor barunya dia langsung sms aku ya’ kataku. Jujur saja aku sendiri tidak tau kenapa aku malah meminta nomor siswi yang baru kukenal ini dengan alasan aku ingin tau nomor dia.

‘Oke bang.” Katanya sambil memberikan nomornya padaku.
Setelah itu siswi itu bersama temannya meninggalkan aku. Aku menatap mereka masuk ke gerbang sekolah, kemudian aku melirik telpon genggamku. Sempat terfikirkankan olehku untuk menghapus saja nomornya, karena aku yakin hal itu tidak ada gunanya, tapi aku urungkan niat tersebut. Aku sendiri tidak tau alasan. Mungkin karena jauh dilubuk hatiku aku masih menginginkan Dia, atau karena aku tidak ingin menyakiti orang yang telah menunjukkan tatakramanya padaku. Aku berjalan ke rumahku dengan tatapan kosong. Sesampainya di rumah aku merebahkan diri dikasurku, sembari mengkhyal kejadian yang kualami di sekolah tadi. Akhirnya setelah lama memikirkannya aku tertidur.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar