Day 1
Tahun lalu, ketika aku masih berada di SMA, aku duduk termenung di depan komputer, seperti orang yang telah kehilangan semangat hidup dan jatuh pada lautan kegalauan. Aku merasa Ingatkanku memudar, tapi perlahan aku mulai mengingat kejadiannya. Ya kejadian yang tidak akan bisa kulupakan, melihatnya memalingkan wajah dariku serta berlari menjauh dariku, aku bertanya kepada diriku sendiri kenapa dia meninggalkan aku , Apa aku melakukan kesalahan lagi? Apa aku mengacaukan sesuatu? Apa aku membuatnya tersinggung lagi? Aku hanya bisa diam terpaku disana, layaknya seorang pecundang.
Tiba-tiba
ingatanku berubah aku mulai melihat seseorang yang sepertinya dalam kondisi
menyedihkan, dia menyalahkan dirinya, bertanya layaknya orang gila pada dirinya
sendiri, kulihat perlahan sosok itu berubah menjadi cerminan diriku, dan seolah
mendapatkan kesadaran sendiri dia mulai bertanya padaku, ' hey pecundang inilah
yang terjadi jika kau tidak mempunyai pendirian dan menginginkan sesuatu yang
sebenarnya tidak bisa kau jangkau'. ' mungkin kau sudah merasa hebat karena
mengira dia mencintaimu hanya karena dia
memberikan sedikit perhatiannya padamu? padahal kau hanya pilihan
untuknya pada saat bosan'. aku hanya bisa terdiam melihat sosok itu, dia terus
berbicara mkepadaku seolah dia telah lama mengenalku, ya dia memang sudah lama
mengenalku. Dia adalah bagian dari diriku atau kepribadianku yang terpisah. Orang-orang
menyebutnya kepribadian ganda. Kepribadian yang benar-benar bertolak belakang
dengan kepribadian asli kita. Meski dia bertanya banyak hal padaku aku hanya
bisa diam,
‘Huh kau pikir
kau bisa mendapatkannya dengan cara begitu? Seharusnya kau lebih agresif lagi
atau setidak.....” “diam!!!’ kataku padanya
‘ Apapun yang
kau katakan, hal itu tidak akan mengubah fakta yang terjadi, selama ini cukup
aku mengikuti kemaumanmu yang egois itu, seharusnya tidak usah kuikuti saranmu
untuk mendekatinya, kalau aku tau begini akhirnya ‘ ujarku.
‘ Karena itu, kau
ku sebut pecundang, Dasar..’ balasnya.
‘ Kalau kau tak bisa diam, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri, sebaiknya kau diam saja!!’ bentakku.
‘ Kalau kau tak bisa diam, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri, sebaiknya kau diam saja!!’ bentakku.
Akhirnya ‘kepribadianku’
itu diam, ia memalingkan wajahnya dariku kemudian pergi dan akhirnya menghilang.
Tak lama setelah itu akhirnya kudapati kesadaraakanku kembali, akal sehatku
mulai masuk ke dunia nyata. Aku melihat sekelilingku untuk memastikan tidak ada
orang yang mendengarnya, Tentunya aku berharap percakapan yang aku lakukan tadi
itu tidak diketahui oleh siapapun, karena jika hal ini diketahui orang, aku
akan dianggap gila dan kemudian akan dikucilkan. Aku kemudian pergi ke tempat
tidur, berharap besoknya aku tidak ingat apapun, dan bisa tidur dengan tenang. Meski
pada malamnya aku malah bermimpi buruk.
Keesokan
harinya, aku pergi ke sekolah. Tujuaku pergi ke sekolah ialah untuk menngurus
keperluan yang dibutuhkan untuk kuliah, karena aku sudah selesai melaksanakn
Ujian Nasional. Setelah menyelesaikannya, aku duduk di kafetaria sekolah. Tak
lama kemudian ‘Dia’ datang bersama temannya ke kafetaria. Meksi mata kami
bertemu tapi tidak ada tegur sapa yang biasa kami lakukan, kami malah saling
memalingkan wajah ke arah lain. Akhirnya setelah membeli makanan di Kafetaroia
itu, ia segera beranjak pergi dari tempat itu. Sesekali dari jauh aku meliirik
dirinya, dia tampak bahagia bahkan terkesan tidak ingat apa yang dilakukannya
kemarin. Perasaanku bercampur aduk pada saat itu, aku merasa kesal dan sangat
marah akan perlakuannya, tapi disisi lain aku merasa tidak ada gunanya aku
memikirkannya, apalagi dengan meluapkan perasaanku dalam berbagai bentuk. Aku pun
pergi toko lain, untuk mencari angin dan mencerahkan suasana hatiku.
Sesampaiku
ditoko itu, hanya ada dua siswi disana,
mereka sedang memilih makanan yang dibeli. Tanpa memdeulikan mereka aku mengambil
kue coklat, dan kemudian pergi ke kasirnya. Saat berjalan ke kasir aku
berpapsan dengan siswi tadi, kemudian salah satunya menoleh kepadaku.
‘Bang!’
serunya.
Aku menoleh
kesamping melihat dirinya. Aku benar-benar tak mengenal dirinya, entah siapa
yang menyapaku ini, tapi untuk membalas kesopananya aku kemudian mengaggukkan
kepala, sambil bertanya padanya siapa dirinya.
‘Aku temennya ‘Dia’
Bang.’ Katanya.
Ketika mendengar
nama itu jujur saja aku hampir tidak dapat menahan emosi. Aku berprasangka
buruk kepada siswi ini, mungkin dia mengenalkan dirinya padaku untuk
mengejekku, pikirku. Tapi dengan cepat kukendalikan diriku, sambil bertanya
padanya.
‘Oh, temennya
ya? Aku mau nanya, kok dia gak pernah bales smsku apa dia udah punya nomor
baru?’ kataku
‘Soal itu aku
gak tau bang. Tapi bisa jadi dia menukar nomornya’ jawabnya
‘Kalau begitu
boleh aku minta nomormu? Jadi kalau kamu udah tau nomor barunya dia langsung
sms aku ya’ kataku. Jujur saja aku sendiri tidak tau kenapa aku malah meminta
nomor siswi yang baru kukenal ini dengan alasan aku ingin tau nomor dia.
‘Oke bang.” Katanya sambil memberikan nomornya padaku.
Setelah itu
siswi itu bersama temannya meninggalkan aku. Aku menatap mereka masuk ke
gerbang sekolah, kemudian aku melirik telpon genggamku. Sempat terfikirkankan
olehku untuk menghapus saja nomornya, karena aku yakin hal itu tidak ada
gunanya, tapi aku urungkan niat tersebut. Aku sendiri tidak tau alasan. Mungkin
karena jauh dilubuk hatiku aku masih menginginkan Dia, atau karena aku tidak
ingin menyakiti orang yang telah menunjukkan tatakramanya padaku. Aku berjalan
ke rumahku dengan tatapan kosong. Sesampainya di rumah aku merebahkan diri
dikasurku, sembari mengkhyal kejadian yang kualami di sekolah tadi. Akhirnya
setelah lama memikirkannya aku tertidur.
------------------------------------------------------------------------------------------------------